Kudus – Pada awal abad ke-20, ketika pendidikan masih menjadi hak istimewa segelintir orang, lahirlah seorang tokoh visioner bernama Ki Hadjar Dewantara. Pria yang memiliki nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat ini berasal dari lingkungan bangsawan Kadipaten Pakualaman. Ia merupakan putra G.P.H. Soerjaningrat dan cucu Paku Alam III.
Melihat ketimpangan akses pendidikan pada masa kolonial, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Taman Siswa pada 1922. Kehadiran lembaga ini menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan nasional karena membuka kesempatan bagi kaum pribumi untuk memperoleh pendidikan yang setara dengan kalangan priyayi maupun masyarakat Belanda.
Bagi Ki Hadjar Dewantara, kemerdekaan bangsa tidak hanya diraih melalui perjuangan fisik, tetapi juga melalui pendidikan yang merata, membebaskan, dan membentuk karakter. Ia meyakini bahwa bangsa yang terdidik adalah bangsa yang sulit ditaklukkan. Pemikiran inilah yang kemudian melandasi lahirnya Hari Pendidikan Nasional, yang diperingati setiap 2 Mei, bertepatan dengan hari kelahirannya.
Lebih dari seabad kemudian, gagasan Ki Hadjar Dewantara tetap relevan. Jika dahulu tantangan datang dari kolonialisme, kini dunia pendidikan menghadapi derasnya arus informasi, disrupsi teknologi, dan tantangan dalam menjaga karakter generasi muda. Pendidikan tidak lagi sekadar mencerdaskan, tetapi juga harus memanusiakan manusia.
Semangat itulah yang terus dihidupkan oleh Lembaga Dakwah Islam Indonesia Kabupaten Kudus. Bagi LDII Kudus, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan upaya membangun manusia seutuhnya: cerdas secara intelektual, matang secara emosional, kokoh secara spiritual, dan bermanfaat bagi sesama.
Ketua DPD LDII Kabupaten Kudus, Muhammad As’ad, S.E., menegaskan bahwa tantangan generasi muda saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan masa sebelumnya. Kemajuan teknologi menghadirkan peluang besar, tetapi juga membawa risiko yang tidak kecil. Tanpa fondasi karakter yang kuat, kecerdasan justru dapat kehilangan arah.
“Ki Hadjar Dewantara mengajarkan bahwa pendidikan adalah tuntunan hidup. Di LDII Kudus, kami berupaya agar generasi muda tidak hanya pandai, tetapi juga berakhlak mulia, mandiri, dan memiliki kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Gambar : Festival Anak Shole menjadi wujud komitmen Lembaga Dakwah Islam Indonesia Kabupaten Kudus dalam membina generasi penerus yang berkarakter, religius dan mencintai budaya bangsa. . Melalui kegiatan ini, nilai-nilai pendidikan, akhlak mulia, serta semangat kebangsaan ditanamkan sejak usia dini sebagai bekal menyongsong masa depan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui pembinaan berkelanjutan, mulai dari pendidikan anak usia dini, pengajian generasi penerus, pelatihan kepemimpinan, hingga penguatan nilai-nilai luhur. Salah satu fokus utama LDII adalah penanaman 29 karakter luhur, seperti kejujuran, amanah, kerja keras, disiplin, toleransi, dan kemampuan bekerja sama.
Di tengah era kecerdasan buatan dan revolusi industri 4.0, LDII Kudus memahami bahwa pendidikan masa depan memerlukan keseimbangan antara penguasaan teknologi dan penguatan moral. Generasi muda harus mampu bersaing secara global, namun tetap berpijak pada nilai-nilai agama dan budaya bangsa.
Sejarah telah membuktikan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologinya, tetapi juga oleh kualitas manusianya. Jepang, Korea Selatan, China menunjukkan bahwa investasi terbesar selalu bermuara pada pendidikan dan pembentukan karakter.
Bagi LDII Kudus, Hardiknas bukan sekadar seremoni tahunan. Ini adalah momentum refleksi sekaligus aksi atas tanggung jawab mendidik generasi, serta aksi nyata melalui program-program pembinaan yang berkelanjutan. Pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya mungkin belum terlihat hari ini, tetapi akan menentukan wajah bangsa di masa mendatang.
Menyongsong era Society 5.0 dan sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, peran keluarga, sekolah, organisasi masyarakat, dan pemerintah menjadi semakin strategis. Kolaborasi seluruh elemen bangsa mutlak diperlukan untuk melahirkan generasi profesional religius: generasi yang unggul dalam kompetensi, luhur dalam akhlak, dan tangguh menghadapi perubahan.
Warisan Ki Hadjar Dewantara telah melintasi zaman. Di Kudus, semangat itu terus menyala melalui langkah nyata LDII dalam membina generasi penerus. Sebab pada akhirnya, membangun pendidikan berarti membangun masa depan bangsa.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026.
“Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.”
Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan. Nilai yang tetap hidup, dari masa ke masa.

