Rasulullah Saw yang senantiasa melaksanakan Salat ‘Id di lapangan. Beliau biasanya salat di “mushallaa”, sebuah tanah lapang yang terletak sekitar 1000 hasta (200 meter) dari masjid pada masa itu. Rasulullah Saw tidak pernah melaksanakan Salat ‘Id di dalam masjid, kecuali hanya sekali saat hujan turun dengan deras.
Berdasarkan hadits di bawah ini ;
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَةُ … [رواه البخاري]
“Diriwayatkan dari Abu Sa‘id al-Khudri bahwa ia berkata: Nabi Muhammad saw selalu keluar pada hari Idul Fitri dan hari Idul Adha menuju tempat sholat (lapangan), lalu hal pertama yang ia lakukan adalah salat …”
[HR. Bukhari].
Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Sa‘id al-Khudri dan Abu Hurairah di atas menggambarkan praktik Rasulullah Saw dalam melaksanakan Salat Id. Dalam hadis tersebut, terungkap bahwa Nabi Saw selalu keluar menuju lapangan pada hari Idul Fitri dan Idul Adha, dan melakukan Salat ‘Id sebagai kegiatan utama.
Bahkan saat hujan turun, beliau hanya melakukan Salat Id di dalam masjid sekali, sementara praktek yang umum adalah di lapangan terbuka.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ أَصَابَهُمْ مَطَرٌ فِي يَوْمِ عِيدٍ فَصَلَّى بِهِمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةَ الْعِيدِ فِي الْمَسْجِدِ. (رواه أبو داود وابن ماجه )
“Diriwayatkan dari Abu Haurairah bahwa mereka (para Sahabat) pada suatu hari raya mengalami hujan, lalu Nabi saw melakukan shalat bersama mereka di mesjid.”
(HR. Abu Dawud, dan Ibnu Majah).
Juga sebagaimana yg sudah biasa dilakukan, sholat hari raya dilakukan di lapangan atau halaman masjid, kecuali yg tdk punya halaman atau kondisi hujan, sholat bisa dilaksanakan di dalam masjid.
Adapun untuk wanita yang sedang haid juga dianjurkan mendatangi tempat sholat Id, sebagaimana hadits dari Ummu ‘Athiyah berikut ini
عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ – نُسَيْبَةَ الأَنْصَارِيَّةِ – قَالَتْ : (( أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ نُخْرِجَ فِي الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ , وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ)) .
وَفِي لَفْظٍ : (( كُنَّا نُؤْمَرُ أَنْ نَخْرُجَ يَوْمَ الْعِيدِ , حَتَّى نُخْرِجَ الْبِكْرَ مِنْ خِدْرِهَا , حَتَّى تَخْرُجَ الْحُيَّضُ , فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ وَيَدْعُونَ بِدُعَائِهِمْ , يَرْجُونَ بَرَكَةَ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَطُهْرَتَهُ)) .
العواتق : جمع “عاتق” المرأَة الشابة أَول ماتبلغ.
Dari Ummu Athiyyah Nusaibah Al-Anshariah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami pada hari raya untuk menyuruh gadis remaja keluar, dan pada wanita yang dipingit dalam rumah. Beliau memerintahkan bagi wanita haidh agar menjauh dari tempat shalat kaum muslimin. (duduk di belakang shof wanita)”
Dalam lafazh lain, “Kami diperintahkan supaya menyuruh keluar para wanita yang dipingit dalam rumah untuk keluar pada hari raya, bahkan wanita yang sedang haidh. Mereka mengucapkan takbir mengikuti takbirnya kaum laki-laki, dan berdoa mengikuti doanya kaum laki-laki dengan mengharap berkah dan kesucian hari raya tersebut.”
(HR. Bukhori)

